Brain Rot: Word of the Year 2024 versi Oxford, Kenali Penyebab, Gejala, Dampak, dan Cara Mengatasinya
Beranda » Artkel  »  Brain Rot: Word of the Year 2024 versi Oxford, Kenali Penyebab, Gejala, Dampak, dan Cara Mengatasinya
Brain Rot: Word of the Year 2024 versi Oxford, Kenali Penyebab, Gejala, Dampak, dan Cara Mengatasinya
Beranda » Artkel  »  Brain Rot: Word of the Year 2024 versi Oxford, Kenali Penyebab, Gejala, Dampak, dan Cara Mengatasinya
Brain Rot: Word of the Year 2024 versi Oxford, Kenali Penyebab, Gejala, Dampak, dan Cara Mengatasinya
Apa itu brain rot? Kenali pengertian, penyebab, dampak, dan cara mengatasinya agar tetap fokus, produktif, dan sehat di era digital.

PRIVAT BANDUNG - Di tengah derasnya arus informasi dan konten digital, istilah brain rot semakin sering muncul, terutama di kalangan pengguna media sosial..

Popularitas istilah tersebut bahkan membuat Oxford University Press menetapkan "Brain Rot" sebagai Word of the Year 2024, setelah kata tersebut mengalami peningkatan penggunaan yang signifikan sepanjang tahun dan dianggap mewakili salah satu isu penting di era digital saat inil.

Apa sebenarnya Brain Rot itu?

Menurut Oxford University Press, brain rot didefinisikan sebagai penurunan atau kemunduran kondisi mental maupun intelektual seseorang yang diduga terjadi akibat terlalu banyak mengonsumsi konten dangkal atau kurang memacu proses berpikir, khususnya melalui internet dan media sosial. Akibatnya, seseorang dapat merasa lebih sulit berkonsentrasi, cepat bosan, serta cenderung mencari stimulasi yang serba cepat dan singkat.

Mengapa Brain Rot Bisa Terjadi dan Apa Saja Tandanya?

Brain rot umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba. Fenomena ini sering dikaitkan dengan kebiasaan digital yang dilakukan secara berlebihan dan terus-menerus dalam jangka panjang. Berikut beberapa faktor yang paling sering disebut sebagai penyebab brain rot:

Penyebab Brain Rot

  1. Terlalu sering mengonsumsi konten berdurasi pendek, seperti video singkat yang memberikan hiburan instan.

  2. Kebiasaan scrolling tanpa batas di media sosial yang membuat otak terus menerima rangsangan baru.

  3. Penggunaan gadget secara berlebihan hingga mengurangi waktu untuk aktivitas yang lebih produktif.

  4. Kurangnya aktivitas yang melatih kemampuan berpikir, seperti membaca, menulis, berdiskusi, atau memecahkan masalah.

  5. Pola hidup yang kurang seimbang, termasuk kurang tidur dan minim aktivitas fisik.

Selain penyebabnya, brain rot juga dapat dikenali melalui beberapa perubahan pada kemampuan fokus, cara berpikir, maupun kebiasaan sehari-hari. Berikut tanda-tanda yang paling umum dirasakan:

Gejala Brain Rot

  1. Sulit fokus atau berkonsentrasi dalam waktu yang lama.

  2. Mudah merasa bosan, terutama saat belajar atau membaca materi yang panjang.

  3. Kemampuan mengingat menurun dibandingkan sebelumnya.

  4. Muncul dorongan untuk terus membuka media sosial atau gadget meskipun tidak ada kebutuhan tertentu.

  5. Kesulitan memahami atau menganalisis informasi yang kompleks karena terbiasa dengan konten yang serba cepat dan singkat.

Dampak Brain Rot yang Perlu Diwaspadai

Fenomena brain rot tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan menggunakan media sosial atau menonton video pendek secara berlebihan. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat memengaruhi cara seseorang menerima informasi, berpikir, hingga berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Dalam program talk show interaktif mingguan OPSI: Obrolan Psikologi yang diselenggarakan Fakultas Psikologi UGM bersama TVRI Yogyakarta pada 15 April 2025, psikolog sekaligus dosen Fakultas Psikologi UGM, Theresia Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si., Ph.D., mengatakan bahwa, "Konten pendek mempengaruhi cara berpikir yang dangkal, jika konten panjang terkadang perlu didiskusikan lagi."

Adapun dampak lain dari brain rot yang paling sering dirasakan yaitu:

  1. Kemampuan Fokus dan Konsentrasi Menurun

  2. Produktivitas Sehari-hari Berkurang

  3. Interaksi Sosial Menurun

Cara Mengatasi Brainrot yang Bisa Diterapkan

Kabar baiknya, brain rot bukan kondisi yang tidak bisa diperbaiki. Dengan perubahan kebiasaan yang konsisten, kemampuan fokus dan kesehatan mental dapat kembali terjaga, berikut caranya:

  1. Batasi waktu penggunaan media sosial

Tentukan batas harian untuk membuka aplikasi hiburan agar penggunaan gadget tetap terkendali dan tidak mengganggu aktivitas penting lainnya.

  1. Kurangi konsumsi konten yang tidak berkualitas

Pilih konten yang memberikan wawasan, pengetahuan, atau keterampilan baru dibandingkan hanya hiburan singkat yang dikonsumsi secara berlebihan.

  1. Biasakan membaca dan belajar secara mendalam

Membaca buku, artikel panjang, atau mengikuti diskusi dapat melatih otak untuk kembali fokus dan berpikir kritis.

  1. Lakukan aktivitas fisik secara rutin

Olahraga membantu meningkatkan kesehatan otak, memperbaiki suasana hati, serta mengurangi efek negatif dari terlalu lama menatap layar.

  1. Terapkan digital detox secara berkala

Luangkan waktu tanpa gadget, misalnya beberapa jam setiap hari atau pada waktu tertentu di akhir pekan, agar otak mendapatkan kesempatan untuk beristirahat dari banjir informasi digital.

Meski kerap digunakan sebagai istilah populer di internet, fenomena brain rot mencerminkan kekhawatiran nyata terhadap pola konsumsi konten digital saat ini dan menjadi pengingat pentingnya menyeimbangkan hiburan dengan aktivitas yang mampu melatih fokus, kreativitas, serta kemampuan berpikir kritis.

Dengan penggunaan teknologi yang lebih bijak dan seimbang, brain rot dapat dicegah sekaligus membantu menjaga kemampuan berpikir, fokus, serta kesehatan mental di era digital yang serba cepat saat ini.***